Beberapa tahun belakangan ini fenomena indie demikian deras menyentak. Menyeruak dari kalangan pemusik “pinggiran”. Membuat suatu trend baru di industri musik global. Suatu pertanyaan yang akan membekas di benak kita. Sebenarnya apa makna indie, underground, D.I.Y , istilah istilah yang akrab dengan dunia musik “bawah tanah” ini.

indie

Saat ini orang sering salah kaprah dalam menilai sebuah musik. Banyak yang menyebut-nyebut musik “underground” sebagai sebuah musik yang keras, brutal, yang hanya di dominasi oleh kelompok musik beraliran death metal, grind core, hard core atau black metal. Dan ini terus diulang-ulang yang akhirnya memberikan pengertian yang keliru.
Sekarang kita kupas sedikit demi sedikit tentang “kesalah-kaprahan” ini. Indie sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Inggris, Independent, yang artinya merdeka, bebas, mandiri. Istilah ini kemudian oleh kalangan pemusik dipelesetkan menjadi Indie. Istilah Indie lebih merujuk pada sistem produksi yang dilakukan oleh seorang pemusik. Sebuah band atau pemusik yang membuat sendiri musiknya, merekam, kemudian, memasarkan atau mendistribusikan hasil karya musiknya tersebut, inilah yang disebut sebagai pemusik Indie. Segala sesuatu yang dilakukan oleh pemusik dari mulai proses kreatif. Membuat sampai mendistribuskan produk secara “sendiri” dan diluar jalur “mainstream” ini akhirnya disebut dengan istilah D.I.Y (Do it Yourself) . Karena dalam mendistribusikan atau memasarkan produk ini lewat “gerilya” atau jalan “bawah tanah” (karena minimnya budget terutama), maka muncullah istilah Underground.

fist in the airPerlu diketahui bahwa dalam proses produksi D.I.Y. ini tidak ada campurtangan dari orang lain. Yang mempengaruhi proses kreatif dari sang musisi. Karena semua dilakukan sendiri olehnya.
Kemudian muncul istilah indie label dan major label. Indie label adalah sebuah recording company yang mungkin saja tidak sebesar major label terutama dari budgetnya. Akan tetapi memiliki konsep sendiri, mulai dari jenis musik, recording sampai sampai pada pemasaran produk. Dari record label indie ini biasanya para pemusik mendapatkan kebebasan dalam berkarya. Sedangkan major label adalah sebuah record company yang besar, yang memiliki jaringan pemasaran atau distribusi produk yang luas di berbagai negara. Karena yang dikejar adalah target market dan trend yang sedang atau sudah ada dan berkembang. Maka biasanya seringkali pihak produser menekan atau mempengaruhi, proses kreatif dari artis atau pemusik dalam menuangkan ide atau karyanya.

Seorang pemusik bisa disebut pemusik underground, bila semua produk mereka dibuat secara indie (oleh mereka sendiri). Mulai dari musik dasar, aransemen, desain cover album sampai proses pemasaran atau distribusinya. Sedangkan untuk jenis musik “underground” sendiri sebenarnya mencakup semua jenis musik dan tidak terbatas. Dari pop, hard rock, heavy metal, punk, ska, death metal, black metal, hard core, techno, rock alternative bahkan jazz.

Bila dilihat sejarahnya, D.I.Y, indie dan underground ini adalah sebuah bentuk perlawanan dan penolakan terhadap musik-musik mainstream, major label, dan industri musik yang memperiakukan musik bukan sebagai seni. Akan tetapi sebagai komoditi. Bahkan pada banyak kasus banyak sekali pemusik yang dijadikan sebagai sapi perah bagi produser rekaman. Suatu bentuk perlawanan dari seniman musik yang ingin melontarkan ekspresinya, yang ingin karyanya dihargai dan dinikmati semua orang, tanpa kehilangan idealisme dan kreatifitas yang dimilikinya. Seperti dikatakan oleh Catherine Nicholas dalam tulisannya yang pernah dimuat dalam Left Of The Dial,

“Todays, pop stars are simply the puppets of the powerful, money-hungry businessman of the music industry”.

Sistem produksi D.I.Y ini terutama dilakukan oleh pemusik-pemusik yang tidak mendapat tempat di dunia industri rekaman besar. Di luar negeri, bertebaran ratusan bahkan ribuan pemusik. Baik band atau pemusik solo yang konsisten dengan jalur indie ini. Bila anda akrab dengan teknologi, sekali waktu cobalah surfing di internet dan akan anda dapatkan begitu banyak informasi tentang nama-nama band, pemusik-pemusik underground, album-album rekaman mereka, yang anda belum pernah tahu atau bahkan mendengarkannya.

guitarDengan ramuan musik yang lain, dari yang sudah ada di pasaran. Grup-grup atau pemusik ini menerobos dan menciptakan pasar tersendiri. Musik yang menderu-deru, suara vokal “growling” khas pemusik death metal, link yang kasar, penuh umpatan dan kata-kata jorok, hujatan-hujatan terhadap kondisi sosial, kondisi negara dan lingkungan, bahkan ideologi dan propaganda, permainan instrumen yang “njelimet”, sound-sound yang “noisy”, sampai dandanan yang dianggap aneh dan hal-hal yang tidak sesuai dengan “pasar” atau trend di dunia “pop” menjadi sah-sah saja dan legal di kalangan komunitas underground.

Di Indonesia sendiri, fenomena indie diawali dengan di lepasnya album Mata Dewa karya Iwan Fals dan Setiawan Djody. Lalu disusul Pas band, dari Bandung, dengan mini E.P berisi 4 lagu bertitel Four Through The Sap, sebelum dirilis ulang oleh Aquarius. Setelah itu berturut-turut beberapa grup yang menjadi “sejarah indie” di Indonesia seperti Jasad (C’est La Vie), Sacrilegious (Lucifer’s Name Be Prayed), Puppen (Not A Pup E.P.), Closeminded (Closeminded), dan Pure Saturday dari Bandung serta Tengkorak (11s a Proud To Vomit Him) dari Jakarta.

Temyata hal ini direspon bagus oleh beberapa stasiun radio. Yang sampai menyelenggarakan acara khusus untuk “anak-anak underground”. Dari radio Mustang di Jakarta, GMR di Bandung, Geronimo di Jogjakarta, sampai radio Rajawali di Surabaya. Setelah itu major label sepertinya mulai tertarik dengan fenomena indie ini. Karena dianggap sebagai sebuah pasar yang potensial. Mulailah muncul album Metalik Klinik dari Musica, dan Indie Ten dari Sony Music, yang melejitkan nama Padi, Wong dan Coklat.

Temyata fenomena indie ini tidak hanya melulu di dominasi oleh kalangan musik saja. Di dunia sastra Indonesia muncul Dewi “dee” Lestari yang menerbitkan sendiri novel Supernova, yang mendapat respon bagus dari masyarakat.
Seperti dikatakan oleh Niklas Steffensen,

“If you’re a more-or-less underground and independent artist, you dont have to worry too much about what people think ; Not to say that you dont appreciate criticism, but you dont have to worry about pleasing the majority of (mostly either casual or fanatic) music listeners. And you dont need to worry about manipulating producers, record labels, managers etc. trying to make you do a lot of stuff you really arent interested in doing. You can focus on the music & lyrics, roughly speaking you can focus on what you really wanna do, what you find important. And since underground music doesnt have the narrow limits of mainstream music, there’s also more room for experimentation. This is why independent & underground music (as well as most other artfbrms) is better than mainstream music ; it’s not that I have something against people being successful or making money ; it’s that you dont have to compromise. ITS NOT ABOUT SOUNDING BAD; ITS ABOUT BEING TALENTED!”

Kebebasan berekspresi adalah ide dasarnya yang kemudian berkembang menjadi sebuah karya yang dahsyat.Beranikah anda menempuh jalur underground ini. Sebuah pertanyaan dan tantangan bagi anda.

ps :

  1. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Imparsial FH-UNEJ, didokumentasikan oleh Bahana Justitia FH-UNEJ. Ditulis ulang dan diedit seperlunya untuk indiejember.org
  2. Saat tulisan ini dimuat di Majalah Imparsial, penulis juga merilis mini project electronic soundscape, Noisenation, Psychotronicexperimentalharshnoisecore.

Jember, sebuah kota kecil di propinsi ini ternyata menyimpan pula potensi yang cukup bisa diperhitungkan di dunia musik. Khususnya musik musik underground.Dari kota kecil ini tersembullah sebuah grup lokal, Desecration.Yang intense memainkan musik brutal death metal.

Desecration Berdiri sekitar bulan November 1994, dengan personil awal OQ (drum), Leo (vokal/gitar), dan Andi (bass). Influence band ini seperti grup lain, terpengaruh oleh style permainan dari Malevolent Creation, Deicide, Napalm Death, dan Deeds Of Flesh.Pada tahun itu juga mereka membuat demo dengan titel Immortal Curse.Dan menambah lagi satu personil yakni Firman (rythm gitar).Tapi karena hasilnya kurang begitu bagus demo tidak diedarkan. Pada tahun 1996, Desecration menambah satu personil lagi yakni Irvan (deep growl vocal), sekaligus mengawali aksi mereka di Malang dalam Parade Musik Underground II.Bersama grup dari Yogyakarta, Surabaya dan Bandung, seperti Motordeath, Vexation, Preater Monstro, Rotten Corpse, dan Slowdeath.

Tahun 1997 Desecration merekam demo tape kedua berjudul Curse Of Thousand Pray. Berisi 6 lagu (re- arranged 4 lagu lama dari demo Immortal Curse dan satu cover version dari Deicide).Direkam dalam
jumlah terbatas dan terjual habis. Suatu hal yang cukup luar biasa untuk sebuah grup underground asal Jember.Apalagi ditahun- tahun itulah perjuangan terberat dari musik underground di Indonesia.

desecration cover

Setelah demo tersebut dirilis, mereka kemudian banyak mendapat tawaran main di berbagai kota, tentunya pertunjukan kaum bawah tanah. Mulai dari Solo, Yogyakarta, sampai Bali.Itu masih ditambah lagi dengan review band ini di berbagai majalah underground baik dalam maupun luar negeri, seperti Post Mangled Zine (Surabaya), Morbid Noise Zine (Jakarta), KaliyugaZine (Bali), Cherish The Darkness (Thailand), Mintakatulburuj (Malaysia), Master Of Brutality (Holland), Hell Razor Zine (Belgium), Dark Citadel News Letter (Belgium) dan masih ada beberapa media lagi, yang tidak terdokumentasikan.

Pada awal tahun 1998 OQ keluar dan membentuk band black metal Celestial.Kemudian Doni masuk mengisi posisi vokal,sedangkan Irvan berkonsentrasi dibelakang perangkat drum.Pada tahun itu juga, Desecration masuk dalam album kompilasi Last Safety Minutes Comp., bersama dengan grup grup dari dalam dan luar negeri.Setelah itu mereka kembali berkonsentrasi
membuat lagu lagu baru.Kemudian mereka merekam promo tape berisi 2 lagu (repeated on both side), yang diedarkan gratis untuk keperluan promosi.

Sesudah acara di Bali, Andi keluar dan membentuk band lain beraliran gore/grind.Tahun 1999 Desecration siap dengan lagu-lagu baru, dengan konsep yang baru dan dengan line- up grup yang baru pula. Leo (gitar), Firman (rythm gitar), Irvan (drum) serta Doni (bass, vokal). Full length album bertitel Reincarnation Of Brutality, ini berisi 10 lagu dengan konsep musik brutal death metal. Sedangkan untuk sistem penjualan tetap dengan cara gerilya yang lazim di dunia bawah tanah.

The most extreme and brutal MC ever released from Jember… Reincarnation Of Brutality…!
10 F#**in’Brutal Technical Death Metal Songs, which can damage your brain out !!!!

ps :

  1. Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam bulletin [berisik !] Bahana Justitia FH-UNEJ volume 1 edisi Bulan Oktober 2000. Ditulis ulang untuk indiejember.org.
  2. Cover kaset adalah desain pre release. Dokumentasi pribadi penulis dan Sacrificial Merchandising.
  3. Desecration sendiri setelah ditinggalkan oleh Leo dan Irvan (karena telah menyelesaikan kuliahnya di Jember), menjadi vakum.
  4. Firman mendirikan band beraliran brutal death metal yang bernama Dirty Infamous.