Pagi hari dengan The Imam, homo biadab vaginatarian, sarapan pagi di sebuah warnet yang ngakunya “makan kayu”.
Bercakap cakap sepatah dua patah kata, diselingi kata-kata kotor, makian tanpa makna, ditemani secangkir kopi. Ngobrol tentang hal gak penting. Gayz ..(sori bukan guys..) menjadi indie itu penting gak sih ?

Kalo kamu pakai kaos item berlogo, berlabel distro,kamu udah bisa ngaku indie. Kalo kamu udah bikin rekaman lagu-lagumu sendiri okeee…that is indie. Bikin pertunjukan sendiri, manggung genjrang-genjreng, gedebag gedebug nyanyi lagu bikinan sendiri.yesss that’s indie.
Tapi apa selesai begitu saja ?
ENGGAK

Kalo bagi saya pribadi indie itu bukan hanya sekedar tempelan warna warni penyegar mata. Life Style yang hanya ngambil kulit luar bukan esensi. Materi dan bukan substansi.
Indie kalo buatku pribadi adalah semacam…
YA semacam AGAMA.

Keyakinan yang timbul dari hasrat paling privat dalam hati tertanam dalam otak. Kalo kita udah yakin dengan AGAMA kita kenapa harus nyari yang laen. Ya kan ? …ak jawab dewe.”Ya iya lah masak iya dong”
Ok.thats a prologue.

religion Terjun di dunia “bawah tanah”, underground, indie atau apapun istilahnya adalah hal yang berat. Mungkin “aktifis-aktifis” yang ada di dunia musik indie, bisa merasakan beratnya untuk jadi indie. Nggak hanya modal nekat. Bisa main musik, mainin software komputer, edit disana-sini, jepret dan jadi. Modal berupa duit bisa jadi sebagai halangan yang paling besar. Latihan di studio, beli minuman sebotol dua botol air mineral, naek angkutan umum, mau bayar pke apa kalo bukan duit. apa mau bayar pake daun ato barter sama jidat dan pantat ?
Indie itu berat.

Ya ya ..”beribadah” menurut “AGAMA” kita itu aja udah berat (menurut saya lho) . Tapi namanya juga itu sebuah “keyakinan”, mau nggak mau harus tetap dijalankan.

Di Indonesia, semenjak kemunculan Metalik Klinik dan Indie Ten.Gelombang gerakan Musik Indie di Indonesia, bisa dikatakan berubah.
Menurut saya pribadi. Ada dua kubu dengan konsep dan pemikiran yang berbeda.Istilah yang saya pakai ada dua.
Yang pertama adalah Total Indie. yang saya maksud dengan Total indie disini adalah, Menjalankan konsep konsep, terutama konsep bermusik. sampai proses produksi dan distribusi yang dijalankan sendiri. Membiayai sendiri semua biaya produksi.Keterlibatan sponsor mungkin hanya pada masalah
pendanaan dengan pembagian yang bisa dan biasanya dinegoisasikan.Biasanya yang termasuk golongan Total Indie ini adalah grup grup band yang sudah tidak memikirkan lagi Major label. Mau major
label kek, mau minor label kek, yang penting berkarya, dan yang penting idealisme tersalur. Beres. Oleh karena itu sampai sekarang saya pribadi masih salut dengan PUPPEN, sebuah band hardcore asal Bandung, yang sampai dibubarkannya pun masih setia dan konsisten dengan jalur Underground.

egypt

Yang kedua adalah Setengah Indie. Nah mungkin bagian ini yang menarik. yang saya maksud dengan setengah indie ini adalah. Keinginan pribadi dari personal atau group yang ingin memasuki major label. tapi untuk langkah awal adalah menggunakan proses bergerak ala indie. Bikin lagu sendiri,
bikin demo tape dan disebar luaskan. Dengan cara dijual atau mungkin barter. Tapi tetep tujuan utama adalah major label.
Ok itu adalah dua karakter, dua pilihan yang ada dan sekarang menjadi tren di dunia “bawah tanah”.

Sekarang adalah tinggal pilihan saja. Mau Total Indie atau Setengah Indie.
Semua pilihan ada konsekuensi logis. Total Indie, idealisme tersalur, konsep-konsep terjalankan dengan baik, resiko ditanggung sendiri, untung rugi ditanggung sendiri.Tentunya dengan modal utamanya materi yang nggak sedikit. Sedangkan setengah indie, idealisme memang bisa tersalur, tapi karena targetnya adalah masuk ke major label, maka mau nggak mau, alur dan konsep bermusiknya mengikuti arus. Mungkin untuk awal, konsep- konsep masih terjalankan dengan baik. Akan tetapi bila suatu saat masuk ke Major Label, resiko terbesar adalah tidak terjalankannya konsep bermusik dan idealisme secara sempurna.
Yah tahulah,mau gak mau kan harus komersil. Dan musik juga adalah barang dagangan, jadi jangan kaget kalau idealisme akan sedikit terpangkas.
Tinggal pilih saja. Sama seperti agama. satu agama tapi banyak sekte.

Ya..ya..ya saya tahu, saya atheis ..

ps:

semua istilah dalam tulisan ini adalah istilah bikinan saya sendiri. sedangkan illustrasi diambil dari sini dan sini.

Usai penampilan Blast, MC langsung memanggil dewan juri ke atas panggung. Juri telah mengambil keputusan, dan Krisna J. Sadrach selaku ketua juri nasional pun mengumumkan bahwa band yang akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional dalam ajang pencarian band terbesar di Indonesia, A Mild Live Wanted 2008, adalah Blast dari Jember.Menurut salah satu juri, Indra Thamrin, Blast berhasil menjadi juara karena dianggap memiliki mental yang luar biasa. “Mereka main setelah Nidji, tapi tetep kompak dan gak nervous. Selain itu, materi lagu dan kekompakan bandnya pun paling kuat dibanding dua finalis lain, dan applause penonton juga paling banyak didapatkan oleh Blast,” jelasnya.

“Tanggung jawab makin besar karena sekarang kita bukan lagi sekedar band dari Jember, tapi wakil dari Jawa Timur,” kata Yuni si vokalis. Grup yang pernah membuat satu album indie berjudul “Untuk Dia” ini ternyata lahir di Malang, tapi lalu pindah ke Jember karena para personilnya melanjutkan studi di sana.

Selamat untuk Blast, tapi jangan santai-santai dulu. 9 pesaing buat kalian akan segera muncul, jadi jangan terlalu lama istirahatnya, perjuangan belum dimulai. Sampai jumpa di Jakarta!

sumber : amild.com

 

Selamat buat BLAST Sebagai wakil JATIM di ajang A MILD LIVE WANTED yang akan menuju GRAND FINAL di JAKARTA… Terus Berjuang ya rek… !!!!HARUMKAN INDIE JEMBER!!!

Hello guys..salam indie buat semua yang baca page ini..

 

Sesuai dengan title di atas,kita dari Night To Remember mau sedikit publikasi acara Soft Launching Debut EP kita “The unknown ending“.

 

Debut EP kita ini udah jadi dan tinggal edar..rencana kita edarin luas setelah selese launching utama kita yang belum jelas tanggalnya (hehehe).tapi buat pre sale,album kita cuma kita distribusiin di Bandung Corner Distro. Album ini di sponsorin sama ICC,SWARA musik studio,Bandung Corner Distro, and SOKA Radio (thx a lot buat para sponsor2).

 

sebelum main launching,kita bakal ngegelar soft launching ke sekolah2..

 

Jadwal Soft Launching “The Unknown Ending” Debut EP (sponsored by SWARA and Bandung Corner Distro):

  • 16 Februari: SMU 1 Arjasa (10 pagi), SMP 1 (setengah 8 malem w/opening act by SAGAVO band)
  • 23 Februari:SMU 2 (mulai jam 12 siang dan dibuka untuk umum)
  • 29 Februari:MAN 1 (tentative)

– Next school will be added soon –

 

Kita ngundang temen2 semua buat dateng pada acara di tanggal2 tersebut..Gratiss tiss tiss..

 

mohon doa dan dukungannya..MAJU TERUS INDIE!!

 

NTR.