Sebuah album kompilasi, yang dibuat oleh kawan-kawan band indie yang ada di Jember. Album kompilasi ini bukan yang pertama. Karena di antara tahun 1996 atau 1997, kawan-kawan pemusik dan band indie/underground yang beraliran metal sudah pernah merilis album kompilasi.

Album kompilasi ini dilepas sekitar pertengahan tahun 2006. Karena pada saat itu untuk proses perekaman cukup memakan waktu dan biaya yang lumayan banyak. Maka hanya beberapa band saja yang ikut dalam proses pembuatan album kompilasi ini. Diantaranya adalah Milk Shit, Server Sick, Lin D, Output, Overlaps, dan Sego Bebek.

Album kompilasi ini diberi title “Two Faces”. Dengan cover, gambar 2 bayi sedang beraksi. Album kenangan, album yang penuh sejarah. Dan yang jelas album kompilasi ini telah menjadi catatan sejarah perkembangan musik dan utamanya gelombang musik independen di Jember.

Selamat sianggg jogjaaaa, Asu Jogja, Asu Jogja….Jogjaaa Asu..

Teriakan MC tiba tiba terdengar keras dari speaker di kiri-kanan panggung. Teriakan dan salam pembuka yang disambut dengan gemuruh teriakan dan sorak sorai ratusan penonton. Dan segerombolan MC seketika mengisi panggung utama, amild stage. Soundrenaline 2008 Yogyakarta.
Ya..saat itulah Soundrenaline 2008 akhirnya dibuka. Basa-basi sedikit dari MC menyapa penonton yang saat itu sudah merapat ke bibir panggung.

Dalam schedule, tercatat puluhan band dan artis, pengisi acara Soundrenaline 2008. Berbeda dengan Malang yang berkonsep rock. Di Yogyakarta ini, banyak band dan artis musik pop yang akan tampil. Dari Ressa Herlambang, Sherina, Bunga Citra Lestari sampai Di3va (Krisdayanti, Ruth Sahanaya dan Titi DJ)
Koil dan Slank untuk Soundrenaline 2008 di Yogyakarta ini absen. Skidrow yang dijadwalkan juga akan tampil juga tidak kelihatan sampai acara berakhir.
Karena masih repot berganti kostum dan menyiapkan “perangkat perang” akhirnya saya ketinggalan untuk mengikuti beberapa acara pembuka.Seperti penampilan Java Jive dan penari-penarinya. Sempat terlihat Club 80’s dan Garasi memasuki venue dan masuk ke ruangan tunggu khusus untuk artis pengisi.

Hawa yang panas siang itu tidak menyurutkan minat para pecinta musik untuk mendekati 4 panggung Soundrenaline 2008.Pada acara Soundrenaline 2008 ini disediakan 4 buah panggung. Masing -masing adalah, Talent Stage, kebanyakan diisi oleh band-band local dan band-band indie yang terpilih untuk mengisi acara Soundrenaline ini, meskipun ada juga band terkenal seperti Powerslave masuk disana. Kedua adalah Rising Star Stage yang terletak bersebelahan dengan Talent Star stage. Yang bermain disini adalah band-band baru, yang sudah memiliki album rekaman dan namanya sedang menanjak naik, (seperti nama panggung yang ditempatinya, Rising Star). Contoh kongkritnya seperti Afghan, Kangen Band, T2, dan Wali.

Sedangkan 2 panggung utama, yakni Simpati Stage dan Amild Stage, diisi oleh deretan nama nama besar band dan musisi Indonesia. Dari Club 80’s, Garasi, Naif, The Changcuters, Peterpan, Ungu, Mulan Jameela, PAS band, Andra and The Backbone sampai GIGI.

Sebuah band yang berasal dari Brighton, West Sussex, Inggris. Mencoba menggabungkan antara brutal music dengan konsep dari anime dan budaya/sejarah bangas Jepang. Mereka tetap menganggap bahwa mereka memainkan musik ber genre technical/death metal.

Guttural breakdowns dan catchy death metal riffs. Konsep yang dianggap mereka lain daripada yang lain. Dengan band metal lain mungkin sama sama heavy. Akan tetapi tetap membawa nyawa yang lain. Musik yang brutal, lirik yang kuat mungkin sebuah perpaduan yang menarik. Beranggotakan 4 orang, Eddie – Vocals, Doug – Guitar, Bear – Bass, dan Hillbill – Drums. Plague of Ahitaka mencoba membawa konsep lain dalam musik yang mereka bawakan.

EP “Taking Lives on Ancient Tides”, adalah bukti eksistensi mereka. Menghabiskan lebih dari £1500, hanya untuk rekaman dan duplikasi. Sebuah EP yang amat layak dikoleksi untuk mereka yang suka akan musik berisik dan bergemuruh ini.

Tracklist:
1. The Birds Are Spies, They Report To The Trees
2. Myra Hindley Jack Off Tapes
3. And By Tonight (We Shall Mortify The Undead)
4. Herbert West
5. Alyssa

Jember, sebuah kota kecil di propinsi ini ternyata menyimpan pula potensi yang cukup bisa diperhitungkan di dunia musik. Khususnya musik musik underground.Dari kota kecil ini tersembullah sebuah grup lokal, Desecration.Yang intense memainkan musik brutal death metal.

Desecration Berdiri sekitar bulan November 1994, dengan personil awal OQ (drum), Leo (vokal/gitar), dan Andi (bass). Influence band ini seperti grup lain, terpengaruh oleh style permainan dari Malevolent Creation, Deicide, Napalm Death, dan Deeds Of Flesh.Pada tahun itu juga mereka membuat demo dengan titel Immortal Curse.Dan menambah lagi satu personil yakni Firman (rythm gitar).Tapi karena hasilnya kurang begitu bagus demo tidak diedarkan. Pada tahun 1996, Desecration menambah satu personil lagi yakni Irvan (deep growl vocal), sekaligus mengawali aksi mereka di Malang dalam Parade Musik Underground II.Bersama grup dari Yogyakarta, Surabaya dan Bandung, seperti Motordeath, Vexation, Preater Monstro, Rotten Corpse, dan Slowdeath.

Tahun 1997 Desecration merekam demo tape kedua berjudul Curse Of Thousand Pray. Berisi 6 lagu (re- arranged 4 lagu lama dari demo Immortal Curse dan satu cover version dari Deicide).Direkam dalam
jumlah terbatas dan terjual habis. Suatu hal yang cukup luar biasa untuk sebuah grup underground asal Jember.Apalagi ditahun- tahun itulah perjuangan terberat dari musik underground di Indonesia.

desecration cover

Setelah demo tersebut dirilis, mereka kemudian banyak mendapat tawaran main di berbagai kota, tentunya pertunjukan kaum bawah tanah. Mulai dari Solo, Yogyakarta, sampai Bali.Itu masih ditambah lagi dengan review band ini di berbagai majalah underground baik dalam maupun luar negeri, seperti Post Mangled Zine (Surabaya), Morbid Noise Zine (Jakarta), KaliyugaZine (Bali), Cherish The Darkness (Thailand), Mintakatulburuj (Malaysia), Master Of Brutality (Holland), Hell Razor Zine (Belgium), Dark Citadel News Letter (Belgium) dan masih ada beberapa media lagi, yang tidak terdokumentasikan.

Pada awal tahun 1998 OQ keluar dan membentuk band black metal Celestial.Kemudian Doni masuk mengisi posisi vokal,sedangkan Irvan berkonsentrasi dibelakang perangkat drum.Pada tahun itu juga, Desecration masuk dalam album kompilasi Last Safety Minutes Comp., bersama dengan grup grup dari dalam dan luar negeri.Setelah itu mereka kembali berkonsentrasi
membuat lagu lagu baru.Kemudian mereka merekam promo tape berisi 2 lagu (repeated on both side), yang diedarkan gratis untuk keperluan promosi.

Sesudah acara di Bali, Andi keluar dan membentuk band lain beraliran gore/grind.Tahun 1999 Desecration siap dengan lagu-lagu baru, dengan konsep yang baru dan dengan line- up grup yang baru pula. Leo (gitar), Firman (rythm gitar), Irvan (drum) serta Doni (bass, vokal). Full length album bertitel Reincarnation Of Brutality, ini berisi 10 lagu dengan konsep musik brutal death metal. Sedangkan untuk sistem penjualan tetap dengan cara gerilya yang lazim di dunia bawah tanah.

The most extreme and brutal MC ever released from Jember… Reincarnation Of Brutality…!
10 F#**in’Brutal Technical Death Metal Songs, which can damage your brain out !!!!

ps :

  1. Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam bulletin [berisik !] Bahana Justitia FH-UNEJ volume 1 edisi Bulan Oktober 2000. Ditulis ulang untuk indiejember.org.
  2. Cover kaset adalah desain pre release. Dokumentasi pribadi penulis dan Sacrificial Merchandising.
  3. Desecration sendiri setelah ditinggalkan oleh Leo dan Irvan (karena telah menyelesaikan kuliahnya di Jember), menjadi vakum.
  4. Firman mendirikan band beraliran brutal death metal yang bernama Dirty Infamous.