Berturut turut bergantian masing masing band dan musisi mengisi panggung. Penampilan Java Jive, Ressa Herlambang dan Sherina belum bisa memanaskan suasana, Sampai akhirnya Club 80’s memasuki Simpati Stage. Untuk repertoar yang dibawakan kali ini mereka bereksperimen dengan masing masing personil bernyanyi. Sampai akhirnya Lembu mengambil alih posisi vokal dan menyanyikan lagu hits Club 80`s.

Setelah Club 80`s, segera menyusul D’massive, yang segera disambut teriakan histeris dari penonton cewek. Lagu-lagu pop romantic meluncur dengan lancar. Sementara di Talent Stage dan Rising Star secara ergantian diisi oleh band-band baru. Penampilan Garasi semakin memanaskan suasana. Penampilan band dengan Ayu, vokalis perempuan yang gahar ini cukup menghentak. Lagu-lagu rock dengan penampilan panggung yang atraktif bisa menghibur penonton, di tengah panasnya suhu di Prambanan.

Selanjutnya adalah Jikustik, band yang juga berasal dari Yogyakarta ini tampil cukup mengejutkan. Lagu pertama yang dibawakan adalah lagu Yogyakarta, milik Katon Bagaskara. Yang kemudian di medley dengan lagu milik Jikustik sendiri. Dan akhirnya penampilan Jikustik ini disudahi dengan lagu Malam Minggu yang sedikit bercorak elektronik pop.

Berturut turut kemudian, masih di Simpati Stage dan Amild Stage, bergantian Saw Looser (Singapore) dan Dearest (Canada) menghajar panggung. J-rocks yang kemudian tampil dengan style “Java-Japan combination”. Kostum, kemeja  dengan ornament batik dan celana hitam menandakan ke”rocker”an mereka, ditambah musik “Japanesse Style”. Sekedar tahu saja, J-rocks juga membagikan bendera merah putih
berukuran mini dan miniatur djembe. Lagu-lagu yang dibawakan oleh J-rocks seperti Lepaskan Diriku, Cobalah Kau Mengerti, Kau Curi Lagi, dan Ceria. Dinyanyikan dan ditirukan oleh sedemikian banyak penonton di Peace Park Prambanan. Sampai pada akhirnya pada akhir penampilan, seluruh personil J-rocks, maju ke depan panggung dan menyanyikan Lagu nasional “Padamu Negeri”. Yang langsung membuat merinding yang mendengarkan. Asal tahu saja, hampir seluruh penonton yang menyaksikan ikut menyanyikan lagu penutup ini. Suasana mendadak haru.

Setelah Band dari Canada (Crowned King) selesai memainkan lagunya, muncullah Bunga Citra Lestari. Dengan high heels dan kostum yang berkesan sexy. Bunga Citra Lestari yang kerap disingkat namanya menjadi BCL, cukup bisa mendinginkan suasana. Lagu lagu seperti Ingkar, Aku tidak ingin sendiri dan hitsnya Sunny meluncur dengan manis.

Saya pribadi tidak begitu tertarik menyaksikan band dan pengisi acara di bagian Talent Star Stage ataupun Rising Star Stage. Karena kualitas sound yang menurut saya agak berbeda antara 2 stage ini dengan stage utama. Simpati Stage dan Amild Stage.
Entah perbedaan ini karena memang band/pengisi acaranya tidak bisa mengeset perangkatnya atau memang dari sononya memang udah seperti itu.

Sore hari menjelang. Sesudah Audy menuntaskan penampilannya muncullah Di3va. Ruth Sahanaya, Tity DJ dan Krisdayanti, dengan kostum berwarna merah muda, kembali memanaskan Amild Stage. Yang menarik dari penampilan Di3va kali ini adalah tampilnya Ovie, gitaris dan sekaligus Suami dari Titi DJ dan putrinya. Penampilan putri pasangan Titi DJ dan Ovie sebagai drummer mengiringi ayah dan ibunya cukup atraktif. Untuk ukuran seorang drummer wanita.

Perubahan rundown acara, pada sore hari itu rupanya cukup berpengaruh.perubahan rundown ini berupa , pertukaran waktu tampil untuk band/artis pengisi acara. Utamanya untuk malam hari di Simpati Stage dan Amild Stage. Dan ini akhirnya memang terbukti. Band dan pemusik yang dianggap sebagai raja -raja panggung memang bisa membawa malam di Peace Park Prambanan itu menjadi meriah.

Pas Band, The Changcuters, Naif, Mulan Jameela, Ungu, Nidji dan Andra and The Backbone serta GIGI. Menjadi semacam dewa-dewi panggung yang disembah malam itu.

The Changcuters, mungkin adalah band yang paling ditunggu. Penampilan gila band yang semakin terkenal
lewat lagunya I Love You Beibeh ini membuat suasana kembali menghangat. Di akhir penampilan, The Changcuters membuat kejutan dengan tiba-tiba memakai jaket training. Yang dilakukan kemudian adalah maju ke depan panggung dan melakukan gerakan Senam Kesegaran Jasmani !!! Sementara di bagian backsound memainkan lagu senam wajib di jaman saya SD dahulu. Adegan ini cukup mengundang tawa bagi para penonton Soundrenaline 2008.

Naif band, tetap dengan gaya retro yang jenaka, bisa membuat penonton bergoyang mengikuti lagu-lagunya. Melanie Subono, masih membawakan lagu-lagu milik Slank. Samsons masih bisa membuat massa bernyanyi menirukan lagu yang dibawakan oleh Bams, vokalis Samsons. Pas band walaupun sempat mengalami sedikit masalah di bagian gitar, tetap atraktif seperti biasanya, Pas memberikan kejutan dengan penampilan Sinden serta duet dengan Melanie Subono. Di bagian drum, Sandy terlihat sibuk berganti ganti masker. Gelar raja panggung masih melekat dengan kuat pada band ini.

Berturut turut kemudian bergantian Mulan Jameela dengan kostum sexynya, lalu Peterpan, Nidji, Ungu dan Andra and The Backbone kembali bergantian menghajar panggung. Band-band dengan ribuan fans di Indonesia ini memang layak menjadi bagian akhir di malam itu. Masing masing memiliki fans, memiliki massa tersendiri, lagu-lagu yang akrab di telinga penonton. Membuat Peace Park Prambanan ini menjadi semacam paduan suara raksasa. Semua ikut bernyanyi, bersenandung mengikuti tingkah polah musisi yang beraksi. Diantara penampilan band itu, untuk sementara, saya sempat menyelinap menyaksikan penampilan Burgerkill dengan vokalis baru pengganti vokalis lama, Scumbag, yang meninggal dunia. Walaupun kualitas sound system yang dipakai di Talent Stage maupun Rising Star stage menurut saya masih tetap sama seperti pada siang harinya.

Dari Skidrow yang batal tampil, akhirnya GIGI yang menjadi penutup pesta malam itu. Setelah menghadiri acara press conference di media center. GIGI menjanjikan akan menampilkan sebuah surprise. Ketika ditanya surprise seperti apa, jawabannya hanya singkat “Entar lihat aja di panggung”.
Dan ternyata kejutan itu ternyata ada. GIGI ternyata tampil dengan sangat mengesankan.
Bengawan Solo ciptaan Gesang, dinyanyikan dengan gaya GIGI. Penonton sempat terperanjat, lalu kemudian bertepuk tangan meriah. Disusul dengan Santai, lagu milik Rhoma Irama, lalu berturut turut Kamulah Satu-satunya dari band Dewa, sebuah lagu milik Chrisye, serta Balikin dari Slank. Yang tentunya diaransemen ulang dengan gaya khas GIGI. Rupanya konsep kali ini, berkaitan dengan tema Free Your Voice adalah “Bagaimana kita menghargai musik dari bangsa sendiri”. Respect our music and musician”, mungkin itulah yang coba diungkapkan oleh GIGI. Setiap lagu yang dibawakan GIGI disambut dengan antusias oleh penonton. Tidak salah kiranya band ini menjadi penutup dari hajatan besar
Soundrenaline 2008.Di akhir penampilan, GIGI membawakan lagunya sendiri yakni Nakal dan 11 Januari, yang segera disambut dengan koor oleh penonton. Belum sampai lagu 11 Januari selesai dibawakan terdengar ledakan dari belakang Media Center, tepat dibelakang Amild Stage. Ledakan ini berasal dari kembang api yang diluncurkan, sebagai pertanda diakhirinya acara Soundrenaline 2008.
Serentak, sorak sorai, teriakan dan tepuk tangan meriah menyambut pesta kembang api. Sementara diatas panggung, secara tidak terduga Dewa Budjana melemparkan gitar kesayangannya ke arah penonton. Benar benar sebuah kejutan yang tidak terduga. Sekitar pukul 24.00 pesta pun usai. Soundrenaline 2008 telah berakhir. Kita tunggu saja apa kejutan Soundrenaline di tahun depan.

See You…

Sebelum kedatangan mereka di Indonesia. Indiejember.org, lewat kontribusi Arie berhasil mewawancarai mereka. Berikut ini adalah transkrip dan terjemahan bebasnya.

Setelah album terakhir “With Devils Amongst Us All”, sangat menyenangkan sekali mendengar kalian kembali dengan materi baru. Bagaimana perasaan kalian ?
Kami semua sangat senang dan bangga dengan EP Redemption ini. Untuk selanjutnya kami sedang menyelesaikan Full Album, yang rencananya dirilis untuk musim panas mendatang.

Mengapa lama bagi kalian untuk menyelesaikan materi baru ini ?
It’s been a little over a year…
Kami melakukan tour Album With Devils Amongst Us All semenjak bulan Mei 2006 dan baru pulang kembali ke rumah pada bulan Desember 2007.
Traditionally, sebuah band membuat album baru setiap dua tahun sekali. Dan kami merasa kami telah melakukan hal tersebut pada saat yang tepat.

Bagaimana dengan tour yang kalian lakukan, apakah ada hal menarik untuk diceritakan selama 2 tahun ini ?
Tour is tour… kami telah menjalani berbagai macam tour show. from the big Ozzfest/ Family Values tours to small club. Semuanya menarik dan “amazing” bagi kami

Apa yang paling kalian sukai dari hardcore scene ?, crowds, panggung dan moshpit ?
I think we love all of the above. Hardcore shows, bagi kami terasa lebih menarik dan intim. dan kami menyukai sebagai bagian dari pertunjukan tidak hanya sebagai tontonan saja.

Kembali ke EP Redemption ini. Saya sudah mendengarkan seluruh album milik Walls Of Jericho dan akhirnya mendengarkan EP ini. Rasanya seperti terjun bebas dari musik berkecepatan tinggi ke musik dengan tempo yang pelan. Bagaimana kalian mendeskripsikan EP ini. Apakah ini semacam kontemplasi atau pemanasan sebelum akhirnya Walls Of Jericho merilis Full album ?
“We just wanted to do an acoustic EP with a cool, dark, mellow feel to it”.Jika kamu mendengarkan album lama Walls Of Jericho, kamu pasti mendengarkan satu atau 2 buah lagu seperti yang terdapat di dalam EP ini. “So we decided to just go for it”. Dan melakukan rekaman dengan materi akustik.

Apakah ada kesulitan dalam merubah style vocal. Dari vocal yang brutal ke bentuk yang lebih mellow dan melodic. Dengan instrument akustik
Tidak ada kesulitan dan sangat menyenangkan sekali. “It was cool”. Dan ternyata mudah sekali untuk menulis lagu lagu dalam EP ini

Mengejutkan sekali ketika mendengar Walls Of Jericho membawakan “House Of Rising Sun”. Ceritakan bagaimana lagu ini bisa ikut masuk dalam EP ini.
“We all Love that song”. Dan kami merasa mengasyikkan sekali bila bisa memasukkan lagu ini dalam EP

Bagaimana rasanya di produseri oleh Corey Taylor (Slipknot / Stonesour)
“Corey’s a good friend and a great person”
Kami melakukan sesuatu yang menyenangkan dengannya dalam Redemption ini. Dan Corey benar benar membantu Candace dalam mengolah vokalnya.
“He was the perfect producer to work with on this project”. Dan kami benar benar senang sekaligus bangga bisa bekerja sama dengannya.

Album baru Walls Of Jericho akan dirilis pada musim panas tahun ini.apakah kalian bisa memberi petunjuk tentang album ini nantinya ?
It’s gonna be Brutal so hold on to your seats boys and girls.

Mengapa, semenjak album pertama, lirik yang dibuat oleh Walls of Jericho, selalu jauh dari masalah-masalah politik ?
Kami memang memutuskan untuk lebih banyak berbicara tentang masalah masalah pribadi yang lebih sering dialami banyak orang.

Band ini, Walls Of Jericho, sekarang menjadi inspirasi bagi banyak band. Utamanya yang memiliki “female fronted vocal”. Bagaimana dengan hal ini ? Apakah ini berarti sesuatu ?
Menyenangkan sekali bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.”It means more to us to hear someone tell us that than anything”.

Indonesia menjadi target berikut dalam tour kalian. Bagaimana kamu tahu soal Indonesia ?
Kami tidak tahu banyak tentang Indonesia. |But we are eager to come over and see it. I hear it’s a beautiful place.”

Pesan untuk fans Walls Of Jericho di Indonesia.
We’ll see everyone in June and we are really looking forward to coming over.
See you in JUNE!!!

Terjemahan bebas diambil dari sini