Djoyo is Dad adalah sebuah band project. Yang pertama kali dibentuk oleh kawan kawan di UKM Musik Bahana Justitia FH-UNEJ. Band yang “ajaib” ini menyatakan diri beraliran metal. Akan tetapi metal yang dibawakan adalah experimental dan mengedepankan spontanitas. Lagu yang dibuatpun kesannya adalah hasil jam session. Tidak pernah ada dokumentasi rekaman yang dibuat dengan serius. Dalam artian rekaman di studio dan segala keribetannya. Lagu itu dibuat ya diatas panggung.

Anggota band ini bisa berubah ubah dengan cepat. Karena pada prinsipnya siapa yang mau main silahkan saja bergabung. Tentunya dengan melihat kapasitas stage dan alat musik yang bisa diakomodir. Untuk penampilan panggung, sedikit banyak mereka terpengaruh dengan konsep yang dibawa oleh Slipknot. Yang setiap personilanya memakai masker.Akan  tetapi tidak jarang mereka juga bermain tanpa masker. Kesannya “seenaknya aja lah”, kalo mau maen musik.

Band ini memiliki anggota inti antara lain Hadi (Drum), Nyoman Jembling (Vocal + gitar), Akbar (gitar), dan Yusuf (bass), serta Indrayana (vokal). Dalam penampilan live bila ada teman teman yang ingin ikut bergabung langsung saja diakomodir. Seperti Agung Ram yang sempat mengisi perkusi, pada sebuah penampilan. Beberapa lagu yang sempat terdokumentasi adalah rekaman live. Live recording on the stage. Langsung bikin lagu, langsung dimainkan dan direkam. Semuanya serba spontan. Masalah lirik adalah nomor dua. Ketika musik sudah dimainkan lirik tinggal menjadi tugas Indrayana atau Nyoman untuk berimprovisasi.

Band project ini setelah ditinggal semua anggotanya, (karena lulus kuliah dan bekerja) sekarang mengalami kevakuman. Dari informasi, band project ini akan dilanjutkan oleh “junior-junior” yang menginginkan band project ini tetap ada. Akan tetapi sampai sekarang belum ada kabar.

Untuk informasi lagu mereka yang bisa di download dengan gratis bisa dilihat di sini.

Kalau mau langsung download lagunya. Dibawah ini adalah judul lagu sekaligus link untuk download.

  1. Djoyo is Dad – Worm Attack (Live)
  2. Djoyo is Dad – Fucking Love (Live)
  3. Djoyo is Dad – Lightsout (Live)

Berturut turut bergantian masing masing band dan musisi mengisi panggung. Penampilan Java Jive, Ressa Herlambang dan Sherina belum bisa memanaskan suasana, Sampai akhirnya Club 80’s memasuki Simpati Stage. Untuk repertoar yang dibawakan kali ini mereka bereksperimen dengan masing masing personil bernyanyi. Sampai akhirnya Lembu mengambil alih posisi vokal dan menyanyikan lagu hits Club 80`s.

Setelah Club 80`s, segera menyusul D’massive, yang segera disambut teriakan histeris dari penonton cewek. Lagu-lagu pop romantic meluncur dengan lancar. Sementara di Talent Stage dan Rising Star secara ergantian diisi oleh band-band baru. Penampilan Garasi semakin memanaskan suasana. Penampilan band dengan Ayu, vokalis perempuan yang gahar ini cukup menghentak. Lagu-lagu rock dengan penampilan panggung yang atraktif bisa menghibur penonton, di tengah panasnya suhu di Prambanan.

Selanjutnya adalah Jikustik, band yang juga berasal dari Yogyakarta ini tampil cukup mengejutkan. Lagu pertama yang dibawakan adalah lagu Yogyakarta, milik Katon Bagaskara. Yang kemudian di medley dengan lagu milik Jikustik sendiri. Dan akhirnya penampilan Jikustik ini disudahi dengan lagu Malam Minggu yang sedikit bercorak elektronik pop.

Berturut turut kemudian, masih di Simpati Stage dan Amild Stage, bergantian Saw Looser (Singapore) dan Dearest (Canada) menghajar panggung. J-rocks yang kemudian tampil dengan style “Java-Japan combination”. Kostum, kemeja  dengan ornament batik dan celana hitam menandakan ke”rocker”an mereka, ditambah musik “Japanesse Style”. Sekedar tahu saja, J-rocks juga membagikan bendera merah putih
berukuran mini dan miniatur djembe. Lagu-lagu yang dibawakan oleh J-rocks seperti Lepaskan Diriku, Cobalah Kau Mengerti, Kau Curi Lagi, dan Ceria. Dinyanyikan dan ditirukan oleh sedemikian banyak penonton di Peace Park Prambanan. Sampai pada akhirnya pada akhir penampilan, seluruh personil J-rocks, maju ke depan panggung dan menyanyikan Lagu nasional “Padamu Negeri”. Yang langsung membuat merinding yang mendengarkan. Asal tahu saja, hampir seluruh penonton yang menyaksikan ikut menyanyikan lagu penutup ini. Suasana mendadak haru.

Setelah Band dari Canada (Crowned King) selesai memainkan lagunya, muncullah Bunga Citra Lestari. Dengan high heels dan kostum yang berkesan sexy. Bunga Citra Lestari yang kerap disingkat namanya menjadi BCL, cukup bisa mendinginkan suasana. Lagu lagu seperti Ingkar, Aku tidak ingin sendiri dan hitsnya Sunny meluncur dengan manis.

Saya pribadi tidak begitu tertarik menyaksikan band dan pengisi acara di bagian Talent Star Stage ataupun Rising Star Stage. Karena kualitas sound yang menurut saya agak berbeda antara 2 stage ini dengan stage utama. Simpati Stage dan Amild Stage.
Entah perbedaan ini karena memang band/pengisi acaranya tidak bisa mengeset perangkatnya atau memang dari sononya memang udah seperti itu.

Sore hari menjelang. Sesudah Audy menuntaskan penampilannya muncullah Di3va. Ruth Sahanaya, Tity DJ dan Krisdayanti, dengan kostum berwarna merah muda, kembali memanaskan Amild Stage. Yang menarik dari penampilan Di3va kali ini adalah tampilnya Ovie, gitaris dan sekaligus Suami dari Titi DJ dan putrinya. Penampilan putri pasangan Titi DJ dan Ovie sebagai drummer mengiringi ayah dan ibunya cukup atraktif. Untuk ukuran seorang drummer wanita.

Perubahan rundown acara, pada sore hari itu rupanya cukup berpengaruh.perubahan rundown ini berupa , pertukaran waktu tampil untuk band/artis pengisi acara. Utamanya untuk malam hari di Simpati Stage dan Amild Stage. Dan ini akhirnya memang terbukti. Band dan pemusik yang dianggap sebagai raja -raja panggung memang bisa membawa malam di Peace Park Prambanan itu menjadi meriah.

Pas Band, The Changcuters, Naif, Mulan Jameela, Ungu, Nidji dan Andra and The Backbone serta GIGI. Menjadi semacam dewa-dewi panggung yang disembah malam itu.

The Changcuters, mungkin adalah band yang paling ditunggu. Penampilan gila band yang semakin terkenal
lewat lagunya I Love You Beibeh ini membuat suasana kembali menghangat. Di akhir penampilan, The Changcuters membuat kejutan dengan tiba-tiba memakai jaket training. Yang dilakukan kemudian adalah maju ke depan panggung dan melakukan gerakan Senam Kesegaran Jasmani !!! Sementara di bagian backsound memainkan lagu senam wajib di jaman saya SD dahulu. Adegan ini cukup mengundang tawa bagi para penonton Soundrenaline 2008.

Naif band, tetap dengan gaya retro yang jenaka, bisa membuat penonton bergoyang mengikuti lagu-lagunya. Melanie Subono, masih membawakan lagu-lagu milik Slank. Samsons masih bisa membuat massa bernyanyi menirukan lagu yang dibawakan oleh Bams, vokalis Samsons. Pas band walaupun sempat mengalami sedikit masalah di bagian gitar, tetap atraktif seperti biasanya, Pas memberikan kejutan dengan penampilan Sinden serta duet dengan Melanie Subono. Di bagian drum, Sandy terlihat sibuk berganti ganti masker. Gelar raja panggung masih melekat dengan kuat pada band ini.

Berturut turut kemudian bergantian Mulan Jameela dengan kostum sexynya, lalu Peterpan, Nidji, Ungu dan Andra and The Backbone kembali bergantian menghajar panggung. Band-band dengan ribuan fans di Indonesia ini memang layak menjadi bagian akhir di malam itu. Masing masing memiliki fans, memiliki massa tersendiri, lagu-lagu yang akrab di telinga penonton. Membuat Peace Park Prambanan ini menjadi semacam paduan suara raksasa. Semua ikut bernyanyi, bersenandung mengikuti tingkah polah musisi yang beraksi. Diantara penampilan band itu, untuk sementara, saya sempat menyelinap menyaksikan penampilan Burgerkill dengan vokalis baru pengganti vokalis lama, Scumbag, yang meninggal dunia. Walaupun kualitas sound system yang dipakai di Talent Stage maupun Rising Star stage menurut saya masih tetap sama seperti pada siang harinya.

Dari Skidrow yang batal tampil, akhirnya GIGI yang menjadi penutup pesta malam itu. Setelah menghadiri acara press conference di media center. GIGI menjanjikan akan menampilkan sebuah surprise. Ketika ditanya surprise seperti apa, jawabannya hanya singkat “Entar lihat aja di panggung”.
Dan ternyata kejutan itu ternyata ada. GIGI ternyata tampil dengan sangat mengesankan.
Bengawan Solo ciptaan Gesang, dinyanyikan dengan gaya GIGI. Penonton sempat terperanjat, lalu kemudian bertepuk tangan meriah. Disusul dengan Santai, lagu milik Rhoma Irama, lalu berturut turut Kamulah Satu-satunya dari band Dewa, sebuah lagu milik Chrisye, serta Balikin dari Slank. Yang tentunya diaransemen ulang dengan gaya khas GIGI. Rupanya konsep kali ini, berkaitan dengan tema Free Your Voice adalah “Bagaimana kita menghargai musik dari bangsa sendiri”. Respect our music and musician”, mungkin itulah yang coba diungkapkan oleh GIGI. Setiap lagu yang dibawakan GIGI disambut dengan antusias oleh penonton. Tidak salah kiranya band ini menjadi penutup dari hajatan besar
Soundrenaline 2008.Di akhir penampilan, GIGI membawakan lagunya sendiri yakni Nakal dan 11 Januari, yang segera disambut dengan koor oleh penonton. Belum sampai lagu 11 Januari selesai dibawakan terdengar ledakan dari belakang Media Center, tepat dibelakang Amild Stage. Ledakan ini berasal dari kembang api yang diluncurkan, sebagai pertanda diakhirinya acara Soundrenaline 2008.
Serentak, sorak sorai, teriakan dan tepuk tangan meriah menyambut pesta kembang api. Sementara diatas panggung, secara tidak terduga Dewa Budjana melemparkan gitar kesayangannya ke arah penonton. Benar benar sebuah kejutan yang tidak terduga. Sekitar pukul 24.00 pesta pun usai. Soundrenaline 2008 telah berakhir. Kita tunggu saja apa kejutan Soundrenaline di tahun depan.

See You…

Selamat sianggg jogjaaaa, Asu Jogja, Asu Jogja….Jogjaaa Asu..

Teriakan MC tiba tiba terdengar keras dari speaker di kiri-kanan panggung. Teriakan dan salam pembuka yang disambut dengan gemuruh teriakan dan sorak sorai ratusan penonton. Dan segerombolan MC seketika mengisi panggung utama, amild stage. Soundrenaline 2008 Yogyakarta.
Ya..saat itulah Soundrenaline 2008 akhirnya dibuka. Basa-basi sedikit dari MC menyapa penonton yang saat itu sudah merapat ke bibir panggung.

Dalam schedule, tercatat puluhan band dan artis, pengisi acara Soundrenaline 2008. Berbeda dengan Malang yang berkonsep rock. Di Yogyakarta ini, banyak band dan artis musik pop yang akan tampil. Dari Ressa Herlambang, Sherina, Bunga Citra Lestari sampai Di3va (Krisdayanti, Ruth Sahanaya dan Titi DJ)
Koil dan Slank untuk Soundrenaline 2008 di Yogyakarta ini absen. Skidrow yang dijadwalkan juga akan tampil juga tidak kelihatan sampai acara berakhir.
Karena masih repot berganti kostum dan menyiapkan “perangkat perang” akhirnya saya ketinggalan untuk mengikuti beberapa acara pembuka.Seperti penampilan Java Jive dan penari-penarinya. Sempat terlihat Club 80’s dan Garasi memasuki venue dan masuk ke ruangan tunggu khusus untuk artis pengisi.

Hawa yang panas siang itu tidak menyurutkan minat para pecinta musik untuk mendekati 4 panggung Soundrenaline 2008.Pada acara Soundrenaline 2008 ini disediakan 4 buah panggung. Masing -masing adalah, Talent Stage, kebanyakan diisi oleh band-band local dan band-band indie yang terpilih untuk mengisi acara Soundrenaline ini, meskipun ada juga band terkenal seperti Powerslave masuk disana. Kedua adalah Rising Star Stage yang terletak bersebelahan dengan Talent Star stage. Yang bermain disini adalah band-band baru, yang sudah memiliki album rekaman dan namanya sedang menanjak naik, (seperti nama panggung yang ditempatinya, Rising Star). Contoh kongkritnya seperti Afghan, Kangen Band, T2, dan Wali.

Sedangkan 2 panggung utama, yakni Simpati Stage dan Amild Stage, diisi oleh deretan nama nama besar band dan musisi Indonesia. Dari Club 80’s, Garasi, Naif, The Changcuters, Peterpan, Ungu, Mulan Jameela, PAS band, Andra and The Backbone sampai GIGI.

Setelah pada malam meet and greet itu mendapat informasi dan bantuan dari Mas Arief dari Amild akhirnya saya pada malam itu menemui Mbak Tina. Setelah memperkenalkan diri dan berbincang sebentar akhirnya, saya sebagai salah satu bagian dari media, diusahakan nantinya oleh Mbak Tina sebagai “penguasa Media Center” Soundrenaline 2008 ini saya akan mendapatkan akses untuk media/press. Tentunya dengan atribut atau id-card khusus untuk media/press.
Pada pagi hari tanggal 10 Agustus 2008 itu, akhirnya saya menghubungi Mbak Tina, tentang kepastian masalah akses press ini. Dan setelah ada kepastian, saya dipersilahkan untuk segera ke media center, yang terletak tepat di sebelah belakang Amild Stage.
Bagi peserta fans camp, karena sebelumnya telah dibagikan t-shirt dalam goodie bag. Maka untuk acara Soundrenaline ini, harus memakai t-shirt berwarna hitam tersebut selama acara soundrenaline berlangsung. Tentunya juga tetap dengan tetap memakai id-card. Dan karena status saya saat itu adalah masih “peserta fans camp” maka saya juga harus memakainya. Sebuah t-shirt warna hitam dengan gambar mulut yang terbuka. Penggambaran dari tema free voice Soundrenaline 2008.
Sekitar pukul 10.00 WIB, seluruh peserta fans camp dikumpulkan. Menurut kelompok masing-masing. Untuk kemudian diberangkatkan secara bersamaan menuju venue Soundrenaline 2008.Pada saat itulah baru saya bisa memisahkan diri dari “rombongan”. Karena saya harus segera ke media center.Terlihat tampang-tampang tegang dari security di wilayah sekitar Amild stage, dimana saya akan memasuki media center. Tapi ketika mengetahui saya akan ke media center, tampang tegang itupun berubah dan mempersilahkan saya untuk memasuki “forbidden area”.Memasuki media center, setelah memperkenalkan diri, akhirnya saya menandatangani semacam daftar hadir/absen. Kemudian dari mbak-mbak yang ada di media center itu saya diberi “seragam khusus” untuk media/press. Berupa t-shirt berwarna putih dengan tulisan besar PRESS dibagian bawah t-shirt. Selain t-shirt saya juga mendapat topi dan juga id-card khusus berlabel PRESS. Atribut ini, t-shirt ataupun id-card ini harus dipakai selama acara berlangsung. Jadi selama kita “berkeliaran” dimanapun akan terawasi.Dan yang jelas dengan adanya id-card dan t-shirt, sebagai tanda pengenal ini, saya bebas memasuki setiap jengkal venue. Kecuali memang sudah dibatasi oleh security dan memang tidak bisa dimasuki, oleh siapapun.
Bebas tapi tetap terbatas.

Pagi hari, tanggal 10 Agustus 2008, saat paling bersejarah di Peace Park Kompleks Candi Prambanan
Hari masih sangat pagi., akan tetapi suasana di fans camp sudah ramai. Ternyata banyak peserta yang bangun dan menikmati pagi itu.
Ternyata banyak diantara kawan-kawan peserta fans camp yang sudah “melanglang buana”. Menikmati suasana pagi di Candi Prambanan.
Setelah mandi dan mengambil “sajen”, berupa kopi sebagai teman di pagi hari itu, saya menyusul kawan-kawan yang sudah terlebih dahulu ada di dalam kompleks candi Prambanan. Ternyata dari fans camp, menuju ke dalam kompleks candi prambanan ada “jalan tembus”. Sebenarnya bukan jalan umum. Karena memang jalan tembus itu dari pagar berduri, pembatas antara kompleks candi dan camping ground yang sengaja dilubangi untuk jalan.
Pagi itu memang berawan tapi sejuk , cocok sekali dengan kopi yang saya bawa. Karena saya mencoba menyimpan tenaga untuk siang hari nanti pada saat acara Soundrenaline  berlangsung, saya hanya duduk dan menikmati kopi. Sesekali melihat keasyikan kawan-kawan yang mengabadikan momen lewat kamera. Saling berfoto satu sama lain. Mengabadikan momen yang mungkin sekali seumur hidup bisa mereka nikmati bersama.

ps:burn the stage !